SUARA MERDEKA
06 Mei 2009
Disnakkan Perketat Distribusi Babi
GROBOGAN- Dinas Perikanan dan Peternakan (Disnakkan) Grobogan, melayangkan surat kewaspdaan untuk peternak babi, sehubungan kemungkinan penyebaran virus H1N1. Sebanyak lima peternak yang tersebar di Kecamatan Penawangan, Grobogan, dan Kradenan, menerima surat tersebut kemarin.
’’Meski kondisi peternakan babi terpantau terawat, namun kewaspdaan terhadap kemungkinan merebaknya virus H1N1 terus ditingkatkan. Terlebih, dinas juga telah menerima surat Mendagri perihal antisipasi flu babi,’’ kata Kepala Disnakkan Grobogan dokter hewan Gembong Murdowo, melalui Kasi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Hewan (P3H) dokter hewan Bambang Yulianto di sela-sela menyampaikan surat ke salah satu peternak babi di Desa Getasrejo Kecamatan Grobogan Selasa (6/5) siang.
Isi surat itu sekaligus mengingatkan virus H1NI dengan cepat menyebar di berbagai negara, setelah sempat menggemparkan Mexico dengan menewaskan ratusan orang. Sebagai antisipasi, peternak babi diminta meningkatkan kebersihan, melakukan perlindungan diri terhadap virus/jasad renik (bio security), memberikan pakan seimbang untuk menjaga daya tahan tubuh babi, hingga menjauhkan pemeliharaan babi atau unggas dari pemukiman penduduk.
Perawatan Berkala
Selain itu, peternak diminta untuk tidak membawa masuk babi dari luar daerah tanpa adanya surat sehat. Sebab surat sehat penting, untuk mengetahui kondisi terakhir hewan yang akan dibawa masuk. Sehubungan masalah ini, dinas akan memperketat kemungkinan lalu lintas pengiriman babi dari dalam atau pun luar daerah.
Sesuai data dinas, populasi babi di wilayah Grobogan mencapai 596 ekor. Ratusan babi itu tersebut dipelihara oleh Taryo di Desa Kramat Penawangan sebanyak 36 ekor. Kemudian Edi Yunanto di Dusun Pondok Karangrejo Grobogan (250 ekor), Budi Wiguna di Getasrejo, Grobogan (150 ekor), Ginarto Sonorejo di Rejosari Kradenan (80 ekor) dan Pasiman di Dolog Rejosari Kradenan (80 ekor).
Ny Budi Wiguna peternak babi di Getasrejo Grobogan mengakui mengikuti sepenuhnya saran dinas, untuk terus memantau perkembangan kesehatan babi miliknya. Sejauh ini pihaknya juga menerapkan perawatan berkala seperti memandikan, memberi makan cukup, dan membersihkan kandang babi. Diakui selain dijual ke Solo, daging babi miliknya dijual secara khusus di sebuah toko daging di Purwodadi.
’’Toko itu khusus untuk warga yang memang membutuhkan daging babi. Daging babi tidak dijual sembarangan, apalagi sampai masuk ke pasar,’’ jelasnya. (H41-16)
Radar Kudus (JAWA POS)
[ Rabu, 29 April 2009 ]
Terlebih, di kabupaten terluas kedua di Jawa Tengah ini memiliki beberapa peternakan babi dalam skala besar. “Selain terus memantau peredaran hewan babi dari dan keluar Grobogan, beberapa peternakan telah kami imbau untuk melakukan tindakan antisipasi,” terang Kepala Disnakan Gembong Murdowo melalui Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veterinair (Keswankesmavet) drh Nur Ahmad Wardiyanto.
Ditemui di sela-sela inspeksi mendadak di sebuah peternakan babi di Desa Karangrejo, Kecamatan/Kabupaten Grobogan kemarin, Wardiyanto memastikan sejauh ini beberapa peternakan babi masih aman. Sebab, selama ini Kabupaten Grobogan lebih dikenal sebagai tempat pembiakan babi.
Jadi, frekuensi masuknya hewan babi dari luar daerah ke Kabupaten Grobogan dipastikan sangat kecil. “Karena di sini tempat pembibitan dan pembiakan, jadi kemungkinan masuknya virus ini ke Grobogan relatif kecil,” jelasnya.
Ia menambahkan, warga sekitar peternakan yang sebelumnya khawatir terhadap isu penyebaran flu babi, diharap lebih tenang. Untuk itu, pihaknya akan terus melakukan sosialisasi kepada peternak dan masyarakat sekitar. “Kalau ada kasus flu burung maupun flu babi, segera saja laporkan kepada kami,” imbaunya.
Sementara itu, Suparjo, petugas peternakan babi di Desa Karangrejo itu mengatakan, pihaknya selalu menjaga kebersihan kandang sekitar 200 hewan babi di peternakannya itu. “Kami rutin membersihkan kandang dan memandikan hewan ternak sehari dua kali,” ujarnya.
Selain itu, Sebelum dikirim keluar daerah seperti Solo dan Jakarta, pihaknya selalu memastikan kesehatan hewan hasil ternaknya, dengan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. “Sejauh ini, kami pastikan masih aman, dan belum ada penyebaran virus flu babi ini,” terangnya yang mengaku bisa mengirim puluhan ekor babi ke luar daerah seminggu sekali.
Kudus Awasi Pasokan
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kudus Ir Budi Santoso menegaskan, pihaknya terus meningkatkan pengawasan terhadap usaha ternak babi di Kota Kudus dalam beberapa pekan terakhir.
Menurut Budi, hingga kemarin pihaknya belum menemukan adanya indikasi virus flu babi di Kudus. “Kami belum menemukan virus seperti itu,” tegasnya.
Pasokan daging babi untuk daerah Kudus, menurutnya, tidak didatangkan dari daerah lain. Sebab, kebutuhan daging babi untuk daerah Kudus tidak terlalu besar dan masih dapat dipasok dari dalam. “Kebutuhan tidak terlalu banyak dan pengawasannya akan semakin diperketat,” ungkapnya.
Pengawasan juga dilakukan di pasar yang memperjualbelikan daging babi, tidak hanya di pemasok. Petugasnya, secara periodik, memantau perkembangan soal penyebaran virus itu. “Bila ditemukan, kami akan secepatnya menindaklanjuti,” jelasnya.
Pihaknya juga mengimbau kepada para peternak, bila ada ternak babi yang sakit diminta untuk segera melaporkannya ke Dinas. Hal itu guna memastikan apakah ternak yang sakit positif flu babi atau tidak.
Saat ini, berdasarkan data yang dihimpun, jumlah daging babi yang beredar di Kota Kudus tidak banyak. Penyembelihan dilakukan di salah satu tempat di Kecamatan Kota. Menurutnya lagi, dulu memang ada peternakan di sekitar Terban, namun kemudian dipindah ke Kecamatan Kota.
Mengenai vaksin untuk menangkal virus tersebut, diakui Budi, saat ini belum dimiliki Dinas Pertanian Perikanan dan Kehutanan Kudus. Sebab, hingga saat ini belum ada indikasi positif terkait mengenai virus flu babi di Kota Kudus. “Salah satu hal yang kami prioritaskan yakni pengawasan usaha ternak babi terlebih dahulu, berikut kita awasi pemasarannya,” tandasnya. (ans/mg1/nto)
Peternak dan Pekerja di Kandang Babi Resah
Liputan6.com, Kuningan: Keresahan terhadap wabah flu babi mulai mendera peternak dan pekerja di kandang babi. Mereka khawatir akan tertular. Hingga Rabu (29/4), petugas dari Dinas Peternakan juga terus melakukan penyuluhan kesehatan dan kebersihan ternak guna memantau keadaan masing-masing untuk menghindari adanya virus.
Hingga kini virus flu babi telah menewaskan 159 orang. Semua penderita yang meninggal berada di Meksiko [baca: Amerika Serikat Terancam Flu Babi].(YNI/Tim Liputan 6 SCTV)
Pengawasan Perdagangan Babi Diperketat
Liputan6.com, Gorobogan: Berbagai langkah dilakukan untuk mengantisipasi munculnya virus flu babi atau swine influenza di Indonesia. Di Grobogan, Jawa Tengah, dinas peternakan menggelar sosialisasi cara mengantisipasi virus dengan menjaga kebersihan kandang babi. Pengawasan sentra perdagangan babi pun diperketat.
Di Jombang, Jawa Timur, petugas menyemprotkan disinfektan pada satu-satunya peternakan babi di Desa Karang Mojo Plandaan. Meski jumlah ternaknya hanya puluhan, langkah antisipasi tetap dinilai penting oleh instansi terkait.
Sementara di Medan, Sumatra Utara, maraknya pemberitaan flu babi membuat omzet pedagang daging babi menurun drastis dalam sepekan terakhir. Padahal konsumsi babi di wilayah ini terbilang cukup tinggi. warga memilih tak mengonsumsi babi untuk sementara waktu.
Di Cengkareng, Jakarta Barat, instansi terkait menyemprotkan disinfektan di sebuah rumah pemotongan hewan. Babi yang baru didatangkan dari sekitar Jakarta disemprot untuk membasmi kuman parasit. Langkah ini rencanya dilakukan secara berkesinambungan.(IKA/Tim Liputan 6 SCTV)

Komentar Terakhir