HARIAN SORE WAWASAN
Rabu, 06 Mei 2009
Peternak Babi Grobogan Belum Terpengaruh Isu Virus H1N1
GROBOGAN - Kalangan peternak babi di Kabupaten Grobogan mengaku tidak begitu terganggu dengan maraknya kabar virus flu babi atau H1N1 di negara Eropa. Sebab pi-haknya punya keyakinan, penyakit yang tiba-tiba jadi ”teror dunia” tersebut tidak mudah menular ke Indonesia.
”Sejauh ini tidak ada masalah. Tidak ada keluhan terhadap ternak (babi-red) saya. Permintaan pasar biasa saja,” ujar Ny Budi Wiguna, peternak babi yang tinggal di Desa Getasrejo, Kecamatan dan Kabupaten Grobogan kepada Wawasan, Selasa (5/5).
Warga yang me-miliki ternak babi 150 ekor ini menuturkan, sejauh ini permintaan babi belum ada yang berubah. Terakhir dia menjual babi kepada pedagang di Solo 20 ekor, pertengahan April lalu.
Kemudian oleh pedagang Solo, babi tersebut dikirim ke Jakarta bersama babi dari Solo. Transaksi jual beli ini sudah dilakukan berpuluh-puluh tahun sejak nenek moyangnya dulu.
”Setahun biasanya bisa kirim tiga kali. Terkadang lebih. Tinggal melihat stok babi yang sudah siap dijual (rata-rata usia enam bulan-red),” ujar generasi ketiga peternak babi ini.
Harga babi di pasaran ratarata Rp 15.000 sampai Rp 16.000 per kilogram. Seekor babi bisa dihargai Rp 1,5 juta, tinggal melihat bobot badannya.
”Selain diambil bakul dari Solo, di Purwodadi juga ada konsumen daging babi. Seminggu biasanya menyembelih seekor yang dijual di toko Jalan R Suprapto Purwodadi,” katanya seraya menambahkan pelanggannya warga keturunan Cina, sebagian Batak dan Bali.
Data di Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Grobogan menyebutkan, populasi babi di Grobogan tidak kurang 596 ekor. Di antaranya ternak milik Taryo, warga Desa Kramat, Kecamatan Penawangan (36 ekor), Edy Yunanto, di Desa Karangrejo, Kecamatan Grobogan (250 ekor).
Budi Wiguna, Desa Getasrejo, Kecamatan Grobogan (150 ekor), Gunarto, warga Dusun Sonorejo, Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan (80 ekor), dan Dasiman, warga Dusun Dolog, Desa Rejosari, Kecamatan Kradenan (80 ekor).
Ingatkan Biosecurity
Kabid Kesehatan Hewan dan Kesmavet Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Grobogan, Drh Nur Ahmad Wardiyanto menjelaskan, sejak munculnya isu flu babi di Meksiko pihaknya telah melakukan langkah-langkah antisipasi. Sejumlah peternak sudah didatangi dan diberikan surat edaran tentang tindakan pencegahan.
Di antaranya, peternak diminta memperhatikan kebersihan lingkungan, melakukan tindakan biosecurity (perlindungan diri dari virus caranya dengan cuci tangan, penyemprotan dengan desinfektan di sekitar kandang), dan meningkatkan daya tahan babi dengan memberikan pakan yang seimbang dan memperhatikan kesehatannya.
Kemudian, menjauhkan hewan ternak dan babi dari permukiman warga, segera melapor kepada dinas jika ada he-wan babi yang mati mendadak dengan gejala mengarah flu babi.
”Peternak juga diminta agar tidak memasukkan ternak babi dari luar daerah,” ujar dia yang mengatakan surat edaran ditandatangani Kepala Dinas Peternakan, drh Gembong Murdo-wo.
Lantas bagaimana gejala penderita yang terkena penyakit flu babi ini? Pada umumnya, gejala infeksi flu babi pada manusia mirip dengan flu biasa pada manusia. Yakni, demam yang muncul tiba-tiba, batuk, nyeri otot, sakit tenggorokan dan kelelahan yang berlebihan. Namun selain itu, virus flu babi bisa membuat penderita muntah- muntah dan diare. Nto-ip