Avian Influenza atau Flu Burung adalah penyakit yang bersifat asimtomatis dan bisa mengakibatkan kematian yang fatal pada unggas. Penyakit ini disebabkan oleh virus Influenza tipe A, yang merupakan famili Orthomyxoviridae. Virus Influenza dibedakan atas 3 tipe yakni, virus Influenza tipe A yang biasa menular ke unggas , tipe B dan C adalah virus yang umum menyebabkan influenza pada manusia. Struktur virus Influenza A sangat mirip satu dengan lainnya.
Dengan mikroskop elektron, virus ini mempunyai bentuk yang pleomorfik, dari bentuk bulat dengan garis tengah rata-rata 120 nm sampai berbentuk filament. Dinding kapsul virus tersusun dari komponen lemak sehingga dengan kondisi ini virus akan mudah mati dengan sabun/detergen karena dinding lemak tersebut akan terlarut oleh komponen sabun/detergen.
Virus influenza dikeluarkan oleh unggas terinfeksi dalam jumlah yang besar bersama kotoran, leleran, dan udara pernafasan. Karena sifat-sifat virus yang labil dalam udara terbuka, penularan melalui udara pernafasan dapat terjadi melalui kontak yang sangat dekat. Penularan melalui kotoran dan leleran lebih besar peluangnya. Virus influenza dapat bertahan lebih lama dalam material organik seperti dalam kotoran, darah ayam, atau leleran dan dapat menulari manusia atau hewan lain secara langsung dari kandang maupun secara tidak langsung melalui pakaian, kendaraan, atau peralatan yang tercemar. Kemampuan virus ini untuk bertahan di air bergantung pada suhu lingkungan. Pada suhu 220C virus AI dapat bertahan hidup selama 4 hari, sementara pada 00 C dapat bertahan lebih dari 30 hari.
KEJADIAN KASUS AVIAN INFLUENZA DI KAB. GROBOGAN
Sejak memasuki musim penghujan ini, masyarakat khususnya pemilik ayam dan unggas harus meningkatkan kewaspadaannya terhadap munculnya kasus Avian Influenza (Flu Burung). Dari hasil pengamatan selama beberapa tahun ini, sejak kasus AI pertama tahun 2003, kasus AI akan meningkat pada saat musim penghujan ( Oktober – Maret ).
Sinyalemen di atas terbukti dengan munculnya kasus AI (Flu Burung) pada ayam buras meningkat mulai musim penghujan. Kabupaten Grobogan memang merupakan daerah endemis Flu Burung sejak tahun 2003. Dinas Peternakan dan Perikanan yang mendapat laporan kejadian kematian unggas secara mendadak langsung mengadakan penelusuran/pemeriksaan ke lapangan, dan dengan pemeriksaan Rapid Tes serta melihat tanda-tanda setelah unggas mati dapat menentukan unggas tersebut positif terinfeksi virus Avian Influenza (Flu Burung) atau tidak.
- Tgl 7 Januari 2009 : Desa kapung kec.Tanggungharjo, kematian 77 ekor
- Tgl 7 Januari 2009 : Desa Kaliwenang Kec. Kedungjati, kematian 37 ekor
- Tgl 29 Januari 2009 : Desa Plosorejo Kec. Tawangharjo, kematian 26 ekor
- Tgl 19 Februari 2009 : Ds. Kedungrejo Kec. Purwodadi, kematian 283 ekor
- Tgl 19 Februari 2009 : Desa Lemahputih Kec. Brati, kematian 20 ekor ayam
- Tgl 24 Februari 2009 : Desa Plosoharjo Kec. Toroh, kematian 52 ekor ayam
- Tgl 24 Februari 2009 : Desa Krangganharjo Kec. Toroh, kematian 34 ekor
Menyikapi kasus tersebut masyarakat tidak perlu menjadi panik, karena dengan upaya penanganan yang benar kasus tersebut tidak akan menyebar secara luas pada ayam dan unggas yang lain dan juga tidak akan menular kepada manusia. Untuk menghindari penularan Flu Burung baik pada unggas dan manusia masyarakat dianjurkan melakukan Gerakan B3K yaitu :
B = Bersihkan tangan dengan sabun/desinfektan setelah bersentuhan dengan ayam/unggas,
B = Bersihkan kandang sesering mungkin dengan disemprot desinfektan, dan
B = Berikanlah vaksin AI pada unggas
K = Kandangkan ayam/unggas agar tidak berkeliaran dan menjadi sumber penularan penyakit
Selain itu juga dilakukan gerakan bersih lingkungan dan apabila terjadi kasus kematian ayam mendadak dalam jumlah banyak segera melapor ke aparat desa/bidan desa atau petugas Dinas Peternakan dan Perikanan.
Kejadian kasus positif Flu Burung pada unggas seringkali berulang, kondisi ini kemungkinan disebabkan dari beberapa faktor yaitu :
1. Faktor cuaca
Seperti telah disebutkan di atas bahwa pada musim penghujan kejadian Flu Burung pada unggas sering muncul. Perubahan cuaca yang signifikan mempengaruhi kondisi unggas, pada musim penghujan daya tahan tubuh unggas cepat turun karena suhu dingin dan stress, terutama bila tidak diimbangi dengan nutrisi yang cukup, sehingga rentan terhadap penyakit termasuk Flu Burung.
2. Faktor Virus
- Virus mudah bermutasi atau mengalami perubahan sehingga sistem kekebalan tubuh tidak dapat mengenali virus baru tersebut.
- Virus akan hidup tahan lama dan mudah berkembangbiak pada kondisi lingkungan basah, lembab dan terhindar dari sinar matahari.
3. Faktor Pengandangan Unggas.
Tingkat kesadaran masyarakat untuk memelihara dengan baik dan mengandangkan unggasnya masih rendah, sehingga ayam peliharaannya berkeliaran kemana-mana yang dapat menyebabkan sumber penyebaran dan penularan Flu Burung lebih luas.
4. Faktor keluar masuknya unggas
Belum terkontrolnya keluar masuk unggas di desa Plosorejo sangat mempengaruhi tingkat penyebaran dan penularan penyakit Flu Burung. Unggas baru yang dibeli dari pasar atau tempat lain merupakan salah satu faktor terjadinya penularan dan penyebaran penyakit di tempat baru. Unggas baru seharusnya dikarantina lebih dahulu selama 14 hari.
5. Peran Unggas Liar
Adanya burung liar seperti burung gereja dan burung semak/Sribombok juga merupakan sumber penularan dan penyebaran penyakit Flu Burung. Burung tersebut terbang dari satu tempat ke tempat lain yang mungkin dari daerah terinfeksi Flu Burung dan membawanya ke tempat lain sehingga dapat menularkan ke unggas lain. Sedangkan untuk burung walet beberapa pakar mengatakan bahwa kemungkinan penularan Flu Burung oleh burung walet sangat kecil karena secara alamiah tidak mengambil makanan di darat dan tidak pernah hinggap di tempat lain kecuali sarangnya. Namun demikian area sarang burung walet dan sekitarnya tetap perlu dibersihkan dan disemprot desinfektan.
6. Faktor Kegagalan Vaksinasi
Tingkat kegagalan vaksinasi tersebut dapat dipengaruhi dari beberapa faktor, antara lain :
- Tidak semua unggas dalam satu wilayah/desa tersebut tervaksin karena kesulitan mengumpulkan/menangkap unggas untuk divaksin.
- Keluar masuknya unggas juga mempengaruhi keberhasilan vaksinasi, karena vaksinasi perlu adanya booster/revaksinasi (3 minggu setelah vaksin pertama, kemudian diulang setiap 3 bulan).