Seperti kita ketahui flu burung telah mengakibatkan meninggalnya 104 orang warga kita. ini baru sebatas ‘riak kecil’ dari suatu’gelombang tsunami’ yang disebut pandemi flu burung. jika ini terjadi, diramalkan setiap hari ribuan orang yang mati disebabkan oleh virus ini.
Hal ini mengingatkan terhadap suatu kejadian pada tahun 1918 di spanyol. hampir 40 juta jiwa terenggut akibat flu spanyol, yang notebene penyebabnya adalah sama dengan virus influenza tipe A. Apakah kita akan berdiam diri saja melihat korban berjatuhan? memang pemerintah melalui dinas peternakan telah melakukan daya upaya untuk mencegah penyakit ini semakin berkembang, tetapi pemegang kunci keberhasilan yang sesungguhnya adalah kesadaran masyarakat.
Sekarang ini, pola pikir masyarakat masih sangat tradisional dan kolot. mereka sebenarnya mengetahui bahaya flu burung, tetapi tidak mau repot. sehingga mereka berpikir praktis, apabila ada unggas yang mati mereka lebih memilih membuangnya ke sungai ato selokan daripada mengubur dan membakarnya. dan lebih memilih berdiam diri daripada melaporkan pada petugas terdekat. hal ini merupakan bom waktu menuju sebuah pandemi. penularan dari unggas ke manusia, dan kalau sudah terjadi pandemi maka akan terjadi penularan antar manusia.
Sadarlah wahai masyarakat! lakukanlah pengkandangan unggas, vaksinasi unggas yg sehat, lakukan penyemprotan dengan cairan desinfektan secara rutin, biosekuriti, kebersihan kandang, jauhkan kandang dari rumah, pisahkan unggas sakit. apabila ada unggas mati, bakar kemudian kubur. segera lapor rt/rw yg akan lapor ke petugas, jangan pernah menjual unggas sakit. Bagi manusia, masaklah daging dan telur, jangan makan unggas sakit apalagi mati, hidup bersih dengan cuci tangan setelah kontak dengan unggas. apabila ada keluarga sakit setelah ada kematian unggas dirumah anda, segera periksa ke dokter. yaitu ketika anda mengalami gejala flu(panas, batuk, pilek) disertai sesak nafas. BERTINDAKLAH SEKARANG JUGA.